Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Pakai High Heels, Cewek Ini Tak Kenal Takut Berjalan di Atas Tali

17:01 Add Comment
Seperti yang kamu tahu, di dunia ini banyak sekali seseorang yang mempertaruhkan nyawanya hanya demi menyelesaikan sebuah tantangan berbahaya. Para pecandu olahraga ekstrem ini memang punya cara tersendiri untuk memuaskan adrenalinnya.

Memang sih, terkadang yang mereka lakukan ini tidak pernah masuk di akal pikiran kita. Tapi mau bagaimana lagi, toh mereka siap kok menanggung segala risikonya seperti yang dilakukan oleh Faith Dickey saat di the Highgirls Brazil Festival.

Festival yang diadakan setiap tahun itu memang menantang para cewek untuk berjalan di atas tali yang sengaja dipasang di atas tebing yang tinggi. Tak tanggung-tanggung, ketinggian ini berjarak hingga 840 meter dari permukaan tanah lho, seperti yang dilansir melalui Mirror.
Pakai High Heels, Cewek Ini Tak Kenal Takut Berjalan di Atas Tali
Gimana ya rasanya berjalan di ketinggian seperti ini ya ©Mirror
Menariknya Faith dan cewek-cewek lainnya ditantang menggunakan High Heels untuk berjalan melalui tali yang terbentang panjang tersebut. Bisa kan kamu bayangkan betapa ngerinya tantangan itu? Goyah sedikit tentu kamu sudah tahu apa taruhannya.

Akan tetapi, keberanian cewek-cewek itu memang susah sekali dibendung. Sebab, dua di antara sekian banyak cewek pemberani tersebut berhasil menyelesaikan tantangan dan memecahkan rekor itu.

Pakai High Heels, Cewek Ini Tak Kenal Takut Berjalan di Atas Tali
Sungguhan harus pakai high heels? Untungnya saja diberi tali pengaman juga ya. Coba kalau enggak? ©Mirror
Reginaldo Gomes (34) dan Faith Dickey (26) sama-sama mengaku sangat tak sabar untuk melakukannya. Mereka mengatakan sudah mempersiapkan diri untuk momen paling mendebarkan tersebut. Untungnya saja keduanya berhasil melakukannya tanpa mengalami cedera apapun. Coba saja kalau tidak?


Sumber: plus.kapanlagi.com

Pak Raden Harapkan Hal Ini Kepada Jokowi, Tapi Tidak Kesampaian

03:44 Add Comment
Pak Raden Harapkan Hal Ini Kepada Jokowi, Tapi Tidak Kesampaian

Meninggalnya seniman Suyadi atau Pak Raden pada Jumat (30/10/2015) malam mengejutkan banyak
Masih ingat di benak bagaimana Pak Raden berjuang mencari biaya pengobatan penyakitnya.
Salah satunya dengan menjual karya lukisannya kepada Joko Widodo.

Dengan menggunakan kursi roda, Pak Raden menyambangi Balai Kota, Jumat (13/9/2013) lalu.
Ia berniat menjual lukisannya seharga Rp 60 juta kepada Jokowi yang saat itu masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Seniman yang dikenal dengan perannya sebagai tokoh berkumis lebat itu harus memendam kekecewaan.
Pasalnya, ia tak bisa bertemu Jokowi yang kala itu sedang mengunjungi Pasar Blok G Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kedatangan Pak Raden akhirnya diterima oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

"(Membuat lukisan) itu membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga. Kalau lukisan ini laku, saya gunakan untuk berobat kaki saya," kata Pak Raden di Balai Kota saat itu.

Tolak tawaran Ahok
Basuki kemudian menawarkan Pak Raden untuk menjual lukisan berjudul "Perang Kembang" itu ke Direktorat Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif (kini Kementerian Pariwisata).

Pak Raden menolak penawaran Basuki.
Pasalnya, menurut Pak Raden, Jokowi mewakili sosok kesatria seperti yang ia lukiskan dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 90 x 40 cm tersebut sehingga ia hanya ingin Jokowi yang membeli lukisannya.

Lukisan berjudul "Perang Kembang" yang dijual kepada Jokowi itu berkisah tentang perlawanan kesatria melawan raksasa.

Dalam pementasan wayang orang dan wayang kulit gaya Surakarta, adegan "Perang Kembang" selalu ditampilkan dan menjadi adegan favorit bagi penonton karena indah, seru, dan menghibur.

Ingin terbitkan buku
Selain uangnya akan dipergunakan untuk biaya berobat, Pak Raden berencana menggunakan uang hasil penjualan lukisannya untuk menerbitkan tiga buku anak-anak tentang pewayangan.

Buku pertama berisi pengenalan wayang orang kepada anak-anak melalui anak perempuan yang bernama Suti.

Buku kedua tentang pengenalan wayang kulit kepada anak dengan tokoh utama bernama Trimo.
Trimo merupakan siswa SD inpres yang memiliki bapak dengan profesi sebagai dalang dan ia selalu membantu pementasan bapaknya serta buku ketiga bercerita tentang tokoh bernama Sumantri.
Buku itu berkisah tentang persahabatan dan cinta Tanah Air.

Mendongeng PNS DKI
Seusai bertemu Basuki, Pak Raden mendongeng di selasar Balai Kota.
Aksinya menarik perhatian wartawan, pegawai negeri sipil (PNS) DKI, dan beberapa warga di tempat itu.

Pak Raden membawakan cerita berjudul "Mari Buka Celana" dan "Bersyukur". Dongeng "Mari Buka Celana" bercerita tentang seorang ibu yang memiliki lima orang anak yang bernama Maribu, Marika, Marice, Marila, dan Marina.

Adapun dongeng "Bersyukur" bercerita tentang seorang nenek yang sudah tidak memiliki kaki secara lengkap, tetapi nenek tersebut tak pernah lupa untuk bersyukur dan mengucap syukur.

Pada kesempatan itu, Pak Raden juga meminta izin untuk mengamen dan menawarkan lukisan terbarunya. Pak Raden wafat pada usia 82 tahun di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2015) malam.


Sumber: tribunnews.com

Lucunya peserta Bela Negara, nyerah minta pulang tapi mau seragam

06:22 Add Comment
Lucunya peserta Bela Negara, nyerah minta pulang tapi mau seragam

Ada kejadian lucu saat peserta Bela Negara mengikuti pelatihan di Pusat Perdamaian dan Keamanan Markas Besar TNI,Sentul, Jawa Barat. Mereka ada yang ingin pulang lantaran menyerah mengikuti program ini.

"Ada yang mau pulang karena ada alasan lain lah, baru ikut dua hari. Tapi seragamnya mau dibawa pulang pesertanya," kata Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kemenhan, Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin saat ditemui merdeka.com di Pusat Perdamaian dan Keamanan Markas Besar TNI, di Sentul, Jawa Barat, Kamis (29/10).

Mayjen Hartind Asrin pun melarangnya untuk mengambil seragam dan brevet Bela Negara. Sebab dikhawatirkan para peserta menyerah itu bisa menyalahgunakannya.

"Akhirnya mereka ikut lagi karena enggak bisa bawa pulang seragam bela negara. Kalau sudah selesai pelatihan baru boleh bawa pulang," kata dia.

Peserta Bela Negara di Pusat Perdamaian dan Keamanan Markas Besar TNI ini diikuti 180 orang dari berbagai usia dan profesi. Mereka tampak fokus mendengar materi kepemimpinan dari Mayjen Hartind Asrin. Dalam materinya, pria akrab disapa Hartind ini menjelaskan perlunya Bela Negara dalam di lingkungan.

Hartind menuturkan, selama sebulan para peserta hanya bisa pulang di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. "Kemudian mengikuti kembali pelatihan bela negara di sini. Jadi titik drop saat mereka pulang di Kampung Rambutan, Salemba dan Cileungsi," kata dia.

Dia menambahkan, gadget atau handphone peserta bela negara tidak disita. Namun saat di dalam kelas, mereka tidak boleh bermain handphone. Selain itu, pihaknya memastikan tidak melakukan kekerasan selama pelatihan Bela Negara.

"Ini bela negara pelatihan humanis, panggil mereka saja enggak boleh nama, kita juga engga kasar-kasar," kata dia.

Pantauan merdeka.com, saat waktu makan, para peserta Bela Negara duduk berbaris yang sudah tertata rapih dibuat pelatih Bela Negara. Mereka makan dengan lauk pauk ayam goreng, sayur bayam dan buah semangka dan minum air putih. Kemudian tempat tidur peserta Bela Negara juga memakai kasur.


Sumber: merdeka.com

Murahnya harga keperawanan ABG di Indonesia

18:57 Add Comment
Murahnya harga keperawanan ABG di Indonesia

Keperawanan adalah suatu harta yang tak ternilai harganya bagi seorang perempuan. Tetapi belakangan ini ada kaum hawa yang rela menjual keperawanannya demi meraup rupiah.

Para korban umumnya tergiur karena imbalan sejumlah uang yang cukup besar setelah melihat mucikari memakai barang berharga. Tersangka Noni Wahyuni diketahui menjadi mucikari dari empat pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sekolah di daerah tersebut.

"Awalnya mereka cuma berteman biasa, kemudian anak-anak tersebut menanyakan dari mana tersangka bisa mendapatkan barang seperti telepon genggam dan baju yang bagus, lalu tersangka menawarkan anak-anak itu untuk melayani tamu agar bisa mendapatkan uang," ujar Kompol Nur Samsi, Kapolsek Taman Sari dilansir Antara, Kamis (15/10).

Dalam satu kali transaksi, Noni bisa mengajak tiga korbannya sekaligus untuk melayani para pria hidung belang dengan memasang tarif Rp 1 juta. Dari transaksi itu, Noni bisa meraih untung sebesar Rp 300 ribu dan sisanya diberikan kepada korban-korbannya.

Saat ini, polisi masih melakukan pengejaran terhadap salah satu pelanggan, yang merupakan seorang pengusaha perkebunan sawit berinisial Al.

"Sedangkan untuk tersangka akan dijerat atas dugaan perbuatan eksploitasi seksual terhadap anak sebagaimana diatur dalam pasal 88 UU Nomor 35 Tahun 2014 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara," tandasnya.

Lalu cerita mengenai YNA (14) seorang gadis perawan asal Bandung terpaksa hilang kegadisannya oleh pria hidung belang di eks lokalisasi Saritem Bandung. Dia dijual oleh Jem yang kini buron dengan harga Rp 300 ribu kepada DS (40) germo di Saritem.

Dalam kasus lain mucikari kalangan siswi dan mahasiswi berinisial HT (43), menjual PSK yang masih perawan dengan tarif Rp 20 juta. HT mempromosikan kepada pria hidung belang dengan tarif cukup besar.

"Yang masih gadis atau perawan tarifnya Rp 20 juta, mahalkan. Tersangka juga menyediakannya," ungkap Sumarso, Jumat (22/5).

Menurutnya, dalam mengajak wanita menjadi anak buahnya, tersangka HT bekerja secara terang-terangan. Dia mendatangi orangtua calon korbannya, terutama dari kalangan tidak mampu dan menjamin akan memberikan penghasilan yang besar dan mengubah kehidupan mereka.

"Ini yang parahnya. Tersangka datang langsung ke keluarga korban. Bagi yang minat, langsung dijual," kata dia.

Deretan kisah ini tentu sangat memilukan. Prostitusi kian terbuka bahkan melibatkan anak-anak di bawah umur. Seharusnya hal itu diberantas hingga ke akar-akarnya.


Sumber: merdeka.com

Mengaku teladani Rasulullah, Ahok mau cari simpati umat muslim?

20:44 Add Comment
Mengaku teladani Rasulullah, Ahok mau cari simpati umat muslim?

Jelang Pilgub DKI, sejumlah lembaga mulai merilis survei untuk melihat elektabilitas sejumlah nama yang disebut-sebut bakal mencalonkan diri. Sejauh ini, nama-nama yang disurvei masih seputar calon incumbent Basuki Tjahaja Purnama, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, dan beberapa nama lainnya.

Rilis teranyar dilakukan lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dengan metode jawaban spontan (top of mind), nama Ahok, sapaan Basuki unggul 23,5 persen dari sejumlah namanya. Meskipun, dilihat dari sejumlah responden yang disurvei, hasil ini terbilang kecil untuk seorang calon patahana.

Pada salah satu pertanyaan soal pemilih Ahok, dinyatakan mantan bupati Belitung Timur mendapat perolehan suara 19 perse dari pemilih muslim. Sebagai nonmuslim, peroleh itu dinilai lumayan bila dibandingkan calon yang lain.

Ahok semringah melihat hasil surveinya. Dia mengklaim keunggulan itu karena kinerjanya terlihat publik.

"Menurut saya kalau hasil survei bener ya, saya enggak tahu bener apa enggak. Kalau dia enggak bener berarti pikiran saya, teori saya bener. Kenapa teori saya benar karena saya selalu yakin, kalau kamu jadi pejabat kamu jujur, enggak terima suap, kamu adil, enggak berpihak sama siapa pun dan kamu kerja dengan baik," kata Ahok di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Kamis (16/10).

Mantan Bupati Belitung timur ini mencontohkan, sosok ideal seorang pemimpin bisa terlihat dari sifat dimiliki oleh Rasulullah SAW.

"Misalnya Nabi Muhammad lah, kalau kamu sidiq, fathanah, amanah dan tablig pasti masyarakat pilih. Jadi kamu enggak pernah diajari pilih yang seakidah seagama dari nabi. Prinsip dan teori ini berlaku selama kamu jujur, adil, amanah dan fathanah akan dipilih orang. Mungkin ya kalau itu betul. Tapi saya kira ya udah kita kerja aja," tandas Ahok.

Meski kepercayaan yang dianutnya berbeda dengan mayoritas warga DKI, Ahok tak jarang menunjukkan dirinya juga memahami soal ajaran Islam. Bahkan, dia juga membuat kebijakan yang menunjukkan tolerannya pada umat muslim.

Seperti pembangunan masjid di Balai Kota. Pembangunan masjid itu sudah diwacanakannya sejak 2014. Masjid seluas 410 meter persegi tersebut dijadwalkan rampung akhir 2015. Masjid berlantai dua ini nantinya dapat menampung hingga 1.513 orang.

"Kalau Musala Fatahillah, kita namain Masjid Fatahillah saja," ujar Ahok saat ditanyakan nama masjid senilai Rp 18.838.138.000 itu.

Saat menjadi wakil Jokowi, Ahok sempat melakukan upacara penghormatan ke makam Pangeran Wijaya Kusuma. Namun, saat upacara penghormatan usai setelah tabur bunga, Ahok justru menghampiri juru kunci kuburan, Hadi Widoyo (69).

Ahok pun langsung menawarkan ke Hadi untuk umroh. "Bapak sudah haji? Ada niat untuk umroh enggak pak," ujar Ahok saat menanyai Hadi Widoyo di Taman Makam Pangeran Wijaya Kusuma,Jakarta Barat, Kamis (20/6).

Lantas, Hadi tanpa mengurai sepatah kata langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Langsung, Ahok memerintahkan Wali Kota Jakarta Barat Fatahillah untuk segera mengurus administrasi dan keperluan Hadi berangkat umroh, karena secepatnya ia ingin Hadi segera umroh.

Ahok juga beberapa kali bicara soal Islam. Saat menghadiri acara kumpul (halaqah) para ulama se-Jakarta yang digelar di Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, Ahok menyisipkan cerita jika saat masih kecil pernah hampir belajar Alquran.

Saat di Belitung Timur, Ahok memang bersekolah dan belajar di sekolah Islam. Dia dinasihati oleh gurunya untuk belajar mengaji. Maka Ahok dengan semangat membara menuju masjid selepas Salat Isya.

"Saya diminta sama guru saya ngaji setelah salat Isya. Sayang, saya tidak boleh masuk ke masjid oleh orang yang pikirannya pendek. Katanya saya kafir," ujar Ahok di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Rabu (12/8).

Ahok menyatakan niatnya untuk menjadikan JIC sebagai salah satu destinasi wisata religi milik Pemprov DKI Jakarta. Dia berharap banyak orang yang nanti belajar Islam di JIC.

"Nanti saya ingin Jakarta Islamic Center ini menjadi pusat Islam Indonesia, jika Anda berkunjung ke Jakarta. Saya ingin JIC ini jadi tempat tujuan wisata, yang menunjukkan Islamnya Indonesia," beber dia.

Mungkinkah cara-cara ini dipakai Ahok untuk mendulang suara warga muslim di DKI?


Sumber: merdeka.com